Pages

Rabu, 05 Oktober 2011

Chairul tanjung & Financial Management

 
Chairul Tanjung  adalah pengusaha asal Indonesia. Namanya dikenal luas sebagai usahawan sukses bersama perusahaan yang dipimpinnya. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya. Perusahaan konglomerasi miliknya, Para Group menjadi sebuah perusahaan bisnis membawahi beberapa perusahaan lain seperti Trans corp dan Bank Mega.
Kepiawaiannya membangun jaringan dan sebagai pengusaha membuat bisnisnya semakin berkembang. Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multimedia. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Karman yang kini bernama Bank Mega. Ia menamakan perusahaan tersebut dengan Para Group. Perusahaan Konglomerasi ini mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti).


 

Di bawah grup Para, Chairul Tanjung memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial antara lain Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Tbk, Mega Capital Indonesia, Bank Mega Syariah dan Mega Finance. Sementara di bidang properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para Bandung propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah Investindo, Mega Indah Propertindo. Dan di bidang penyiaran dan multimedia, Para Group memiliki Trans TV, Trans 7, detikcom, Mahagagaya Perdana, Trans Fashion, Trans Lifestyle, dan Trans Studio. Khusus di bisnis properti, Para Group memiliki Bandung Supermall. Mal seluas 3 hektar ini menghabiskan dana 99 miliar rupiah. Para Group meluncurkan Bandung Supermall sebagai Central Business District pada 1999. Sementara di bidang investasi, Pada awal 2010, Para Group melalui anak perusahaannya, Trans Corp. membeli sebagian besar saham Carefour, yakni sejumlah 40 persen. Mengenai proses pembelian Carrefour, MoU (memorandum of understanding) pembelian saham Carrefour ditandatangani pada tanggal 12 Maret 2010 di Perancis. 

Dirut Telkom: Blackberry sudah tak populer di negara maju



JAKARTA: Pasar pengguna Blackberry dinilai berkembang pesat di negara-negara yang masyarakatnya berpenghasilan rendah.

Dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Rinaldi Firmansyah mengatakan Blackberry sudah mulai kehilangan popularitas di negara-negara maju.

Menurut dia, kategori dari Blackberry kini juga tidak jelas, apakah perangkat untuk fungsi korporasi atau yang lainnya.

"Blackberry berkembang di negara-negara dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Kegunaannya juga apa sebetulnya, seperti di Indonesia dimana anak SMA menggunakan Blackberry," jelas Rinaldi, hari ini.

Di Indonesia, Blackberry terus meraih popularitas. Mulai dari persaingan antaroperator seluler untuk menghadirkan layanan Blackberry Internet Service yang murah dengan paket harian, mingguan, bulanan, hingga yang terbaru berlomba-lomba memasarkan produk handset Blackberry terbaru yakni Bold 9900.

Fitur layanan Blackberry yang digemari tidak lain adalah Blackberry Messenger sehingga menjadi daya tarik bagi kalangan muda, termasuk para pelajar. Meskipun, yang digadang paling berguna dari fitur Blackberry adalah push mail, dimana email langsung bisa dibaca dari handset. (faa)